Berikut ini tulisan dalam Rubrik GAGASAN, di Harian Suara Merdeka, 7 Juli 2008, kiranya tulisan Pak Suprayitno ini dapat membangkitkan OPTIMISME kita semua mewujudkan keadaan yang lebih baik, dengan peran serta kita dalam partai politik.
Cat. Saya (Ketua DPC PPI Kota Salatiga) kenal dengan Pak Suprayitno dalam beberapa ‘forum’ yang sama-sama kami ikuti, antara lain di Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP).
Partai yang Baik
Bagi orang yang skeptis, barangkali akan langsung bereaksi ”memangnya ada partai yang baik?”. Jika sulit menemukan partai yang baik, tentu merumuskan partai buruk lebih mudah. Seperti apa partai buruk dan benarkah di negara ini tidak ada partai baik. Dalam negara demokrasi, suka tidak suka pasti memerlukan kehadiran parpol sebagai wadah untuk menampung aspirasi dan merumuskan kebijakan publik.
Melalui rahim parpol, akan melahirkan politikus (anggota Dewan) lewat pemilu. Karena itu baik buruknya parpol dan kualitas anggota Dewan, tergantung dari seberapa cerdas masyarakat membangun parpol dan menyeleksi penghuninya.
Jika masyarakat yang memiliki kapabilitas terhadap pembangunan masa depan bangsa dan negaranya makin tidak peduli dan tak mau ikut memperbaiki atau bahkan menjadi golput, maka dipastikan kualitas parpol dan anggota legislatif akan makin terpuruk. Akhirnya muncul barisan partai buruk dengan anggota Dewan yang buruk pula, karena masyarakat pada dasarnya juga buruk.
Ciri-ciri partai buruk yaitu tidak mampu mencetak kader berjiwa nasionalis sejati serta melahirkan sosok negarawan. Sosok negarawan selalu memiliki visi jelas yaitu bagaimana negara menjadi kuat, disegani dan bermartabat di antara bangsa dunia. Juga rakyatnya makmur sejahtera penuh keadilan sosial, ketertiban (taat hukum) serta kedisiplinan.
Padahal para kader partai buruk (anggota legislatif) tidak akan mampu melahirkan produk UU yang sepenuhya demi kepentingan rakyat. Legislatif yang buruk akan bekerja sama dengan eksekutif buruk dan diayomi oleh yudikatif yang buruk pula. Mata rantai ini niscaya terus terjadi, sebab tidak mungkin legislatif yang buruk akan bekerja sama dengan eksekutif yang biak.
Legislatif yang buruk ditambah eksekutif yang buruk akan melahirkan yudikatif yang buruk pula. Maka tamatlah riwayat demokrasi sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama. Demokrasi akhirnya menghambur-hamburkan uang, menguras tenaga dan pikiran dan sejatinya hanya mengantarkan para elite berpestapora di atas penderitaan rakyatnya.
Ruh demokrasi telah dirampok oleh tangan elite yang selalu berdalih demi rakyat. Bagaimana supaya demokrasi tidak dirampok oleh tangan-tangan oligarki? Jawabnya, mari kaum muda yang memiliki visi yang sama, ramai-ramai terjun ke parpol (terserah partainya). Mari bangun bersama agar rumah parpol bisa melahirkan kader bersih, peduli nasib bangsa dan negaranya.
Jangan menjadi penonton yang hanya pandai mengecam, menyalahkan atau bahkan golput. Saya jamin ketiga hal tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah perpolitikan kita. Ingat, Indonesia bisa merdeka juga karena Bung Karno dan Bung Hatta muda telah membangun landasan parpol yang bersih dan peduli. Tidak tergerakkah untuk meneruskan?. Mari tolong rakyat melalui sistem yang konstitusional bukan melalui gerakan anarkis.
Suprayitno (081325736405) – Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang